Pengojek payung, joki three in one, atau polisi cepek adalah jenis usaha sangat unik yang tidak ditemukan di kota besar di negara manapun di dunia.
Usaha ini dihasilkan oleh orang-orang dgn jenis karakter (untuk bertahan hidup) : inovatif, sekalipun usaha mereka untuk bertahan hidup itu sering (atau selalu?) Berbenturan dengan regulasi (baca: aturan/aparat/kekuasaan mayoritas).
Oleh karenanya, orang dengan tipikal seperti ini boleh dibilang sangat jarang.
Dan menurut saya, orang lain yang tidak memiliki daya juang seperti mereka (yang inovatif) membuat suatu kecaman publik secara massal (dan parahnya berusaha menyeret orang lain yang tak berpikir jernih untuk ikut serta ke dalam pemikiran picik mereka) bahwa bentuk usaha semacam itu melanggar norma. Memalukan. Malas. Bermental pengemis.
Saya tidak mengatakan bahwa orang-orang "inovatif" tersebut benar-benar inovatf, karena selalu ada mereka yang benar-benar malas. Malas untuk mencari bidang usaha lain yang sebenarnya sesuai dengan bakat dan kemampuan mereka. Hanya ingat, tidak ada bidang usaha yang memalukan selama apa yang dilakukan tersebut sesuai dengan potensi dan kemampuan masing2 individu yang berusaha, halal, dan yang terpenting tidak merugikan orang lain.
Saya pernah melihat fenomena bertahan hidup yang amat mengesankan.
Bukan di Afrika.
Bukan di Timur Tengah.
Bukan di New York. Tokyo. Shanghai.
Di Jakarta.
Seorang pria 40 tahunan, berseragam satpam yang bersih dan rapi, dengan peluit tergantung di mulut, tatapan mata tajam, dan semangat yang membara, keluar dari rumahnya di sebuah gang yang sempit.
Geraknya pelan, tapi pasti.
Pelan. Karena satu pasang kaki yang seharusnya dimiliki setiap manusia, tidaklah ada padanya. Tangannya hanya sebelah. Tangan kiri terbungkus kulit hitam legam dengan urat menonjol pertanda kerasnya kerja yang ia lakukan.
Pekerjaan sehari-harinya polisi cepek. Pak ogah.
Kantornya, persimpangan jalan yang cukup ramai.
Kliennya, pengendara mobil dan (kadang-kadang) motor yang sering tidak sabar menunggu untuk melintas memotong arah. Mungkin juga karena kendaraan dari arah lain tidak punya kesabaran yang cukup untuk memberikan jalan pada orang lain di jalan itu. Merasa dirinyalah yang paling penting.
Pengendara truk ataupun bus yang memberi uang receh tanda terimakasih, seringkali harus melemparkan uangnya ke badan si pria. Padahal seharusnya pemberian itu diberi dan diterima dengan tangan pula. Sayang sekali, jarak tangan si pria dan kliennya cukup jauh karena tinggi si pria hanya sekitar satu meter.
Saya takjub.
Terharu. Kesal. Sedih.
Anggota tubuh saya lengkap, meski dengan kelebihan dan kekurangan di sana-sini.
Tapi saya lengkap! Dia tidak!
Saya membayangkan. Bagaimana seandainya ia diberi anggota tubuh yang lengkap seperti Donald Trump, Bill Gates, atau Warren Buffet.
Apa hidupnya akan sama seperti para biliuner?
Lima puluh satu persen dari pikiran saya mengatakan tidak.
Ia tercipta untuk menjadi orang sukses dengan keadaannya sendiri.
Ia tidak perlu keberhasilan dengan gaya orang lain.
Ia akan berhasil dengan caranya.
Demikian juga dengan setiap dari kita.
Kita semua terlahir dengan kekurangan dan kelebihan yang khas.
Tuhan Maha Adil.
Bagi anda yang tidak percaya Tuhan, "kehidupan yang tidak disengaja ini" mempunyai keadilan juga.
Jadi, daripada sibuk mengkritik orang lain dan menambah daftar nama orang-orang malas (yang besar kemungkinan tidak tahu bakatnya sendiri) yang sibuk meratapi kekurangannya sendiri, saya lebih memilih untuk melihat diri ke dalam diri saya sendiri.
Apa yang bisa saya banggakan?
Ketika saya telah menemukannya, apapun itu, saya kembangkan. Optimalkan. Maksimalkan.
Dan saya akan siap menerima kritik sepedas apapun dari orang lain.
Hehe..
(terima kasih untuk : Rr. Cindy Ramadhania dan Mario Teguh)
Sya